Periode empat khilafah—Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali—sering dianggap
sebagai zaman emas kekhalifahan Islam. Sejarah mencatat mereka sebagai
empat khalifah yang bijak (al-Khulafa’ ar-Rasyidun) paska meninggalnya
Nabi Muhammad SAW.
Setelah zaman yang penuh kebijaksanaan itu, sejarah Islam dinilai
tak lagi benar-benar segaris dengan amanat Al-Quran dan Sunnah Nabi.
Perbincangan tentang sejarah emas Islam itu mengemuka dalam diskusi buku
Tarikh Khulafa’: Mengakji Khilafah Membangun Peradaban di panggung
utama Pesta Buku Jakarta yang diselenggarakan Penerbit Qisti Press
(3/7). Tampil sebagai pembicara Ustadz Rasyid dan Ustadz Asep.
Pembicara
menyayangkan minimnya minat generasi muda Islam pada sejarah, bahkan
pada sejarah Islam sendiri. “Minat tehadap kajian sejarah Islam justru
muncul saat banyak sejarawan orientalis mulai banyak menulis tentang
sejarah Islam,” tutu Ustadz Asep. Menurutnya, sejarah Islam amat kaya
dengan sejarawan besar. Ibnu Khaldun, at-Thabari, dan sederet nama besar
lalinnya, merupakan para pionir sejarah yang sulit dicari tandingannya.
Karean
itu kajian mendalam terhadap sejarah Islam mesti terus digelorakan.
Periode Khilafah, misalnya, dinilai berhasil merintis pembangunan
tatanan masyarakat dan negara Islam yang sejalan dengan semangat
Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. Rintisan periode mereka inilah yang pada
gilirannya melempangkan jalan Bagi berdirinya sebuah kakehilafahan yang
menaungi dunia dengan peradaban dan ajaran Islam.[]
sumber: http://www.pestabukujakarta.com/index.php?option=com_content&view=article&catid=7:agenda&id=161:membedah-sejarah-khilafah&Itemid=34