Rabu, 01 Februari 2012

Ironis remaja Islam: belum sadar baca sejarah Islam

Periode empat khilafah—Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali—sering dianggap sebagai zaman emas kekhalifahan Islam. Sejarah mencatat mereka sebagai empat khalifah yang bijak (al-Khulafa’ ar-Rasyidun) paska meninggalnya Nabi Muhammad SAW.

Setelah zaman yang penuh kebijaksanaan itu, sejarah Islam dinilai tak lagi benar-benar segaris dengan amanat Al-Quran dan Sunnah Nabi. Perbincangan tentang sejarah emas Islam itu mengemuka dalam diskusi buku Tarikh Khulafa’: Mengakji Khilafah Membangun Peradaban di panggung utama Pesta Buku Jakarta yang diselenggarakan Penerbit Qisti Press (3/7). Tampil sebagai pembicara Ustadz Rasyid dan Ustadz Asep.

Pembicara menyayangkan minimnya minat generasi muda Islam pada sejarah, bahkan pada sejarah Islam sendiri. “Minat tehadap kajian sejarah Islam justru muncul saat banyak sejarawan orientalis mulai banyak menulis tentang sejarah Islam,” tutu Ustadz Asep. Menurutnya, sejarah Islam amat kaya dengan sejarawan besar. Ibnu Khaldun, at-Thabari, dan sederet nama besar lalinnya, merupakan para pionir sejarah yang sulit dicari tandingannya.

Karean itu kajian mendalam terhadap sejarah Islam mesti terus digelorakan. Periode Khilafah, misalnya, dinilai berhasil merintis pembangunan tatanan masyarakat dan negara Islam yang sejalan dengan semangat Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW. Rintisan periode mereka inilah yang pada gilirannya melempangkan jalan Bagi berdirinya sebuah kakehilafahan yang menaungi dunia dengan peradaban dan ajaran Islam.[]

sumber:  http://www.pestabukujakarta.com/index.php?option=com_content&view=article&catid=7:agenda&id=161:membedah-sejarah-khilafah&Itemid=34

Tidak ada komentar:

Posting Komentar